http://ojs.stftkijne.ac.id/index.php/jmp/issue/feedMURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual 2026-08-12T10:09:12+09:00Amelia Waimuriwaimuriamelia57@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>JURNAL MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual</strong> merupakan Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) GKI I.S.Kijne sebagai sarana publikasi hasil penelitian dan artikel ilmiah yang merupakan kajian sosial budaya, pendidikan (pendidikan secara umum dan pendidikan Kristen secara khusus), dan teologi kontekstual. Jurnal ini memuat artikel ilmiah yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya yang berupa artikel ilmiah hasil penelitian ataupun penelitian terapan dan juga artikel telaah yang berkaitan dengan perkembangan sosial budaya, pendidikan dan teologi kontekstual. Pedoman penulisan artikel dan prosedur pengiriman artikel termuat pada setiap penerbitan. Penerbitan jurnal dilakukan persemester, yaitu pada Bulan Januari dan Juli tahun berjalan.</p>http://ojs.stftkijne.ac.id/index.php/jmp/article/view/170Bahasa Batak Di Tengah Arus Globalisasi: Eksplorasi Penyebab Hilangnya Kemampuan Berbahasa Batak Pada Kalangan Pemuda Batak Perkotaan2026-02-20T15:27:23+09:00Daniel Gian Axel Destrarata Pasaribugian23122006@gmail.comRiris Johanna Siagianririsjohannasiagian@stt-hkbp.ac.id<p>Bahasa Batak merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Batak yang telah berlangsung lama. Namun, dengan semakin berkembangnya arus globalisasi, kemampuan berbahasa Batak di kalangan pemuda Batak perkotaan mengalami penurunan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penyebab hilangnya kemampuan berbahasa Batak pada kalangan pemuda Batak di tengah arus globalisasi. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan penguasaan bahasa Batak, khususnya terkait dengan urbanisasi, perubahan budaya, dan pengaruh globalisasi. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menggali pandangan dan pengalaman pemuda Batak yang tinggal di kota-kota besar serta menghubungkannya dengan dinamika sosial yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa urbanisasi dan perubahan budaya yang cepat menjadi faktor utama yang menghambat pemuda Batak dalam mempertahankan dan melestarikan bahasa mereka. Dominasi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, ditambah dengan penggunaan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari, semakin memperlemah ikatan pemuda Batak dengan bahasa dan budaya mereka. Penelitian ini juga menemukan bahwa meskipun ada upaya untuk mempertahankan bahasa Batak melalui kegiatan budaya dan keluarga, namun pengaruh globalisasi yang semakin kuat menuntut adanya penyesuaian terhadap kebiasaan berbahasa. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah ini, seperti pendidikan bahasa Batak yang lebih intensif dan upaya pelestarian budaya yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, khususnya kalangan pemuda.</p>2026-08-12T00:00:00+09:00Hak Cipta (c) 2026 Daniel Gian Axel Destrarata Pasaribu, Riris Johanna Siagianhttp://ojs.stftkijne.ac.id/index.php/jmp/article/view/223Ketika Liturgi Bergerak: Mengalami Transformasi Iman melalui Bahasa Tubuh2025-12-19T13:47:25+09:00Casandro Siregarcasandropribadi@gmail.com<p>Artikel ini membahas liturgi Kristen sebagai peristiwa iman yang menubuh, dengan menempatkan tubuh sebagai <em>locus theologicus</em> tempat iman dialami, diungkapkan, dan dibentuk. Liturgi tidak dipahami semata-mata sebagai rangkaian teks dan doa verbal, melainkan sebagai tindakan simbolik yang melibatkan gestur, postur, prosesi, dan partisipasi tubuh umat secara utuh. Melalui pendekatan teologis-liturgis dan dialog dengan pemikiran liturgi kontemporer, artikel ini menganalisis konsep <em>participatio actuosa</em> serta prinsip <em>lex orandi, lex credendi, lex vivendi</em> dalam praktik liturgi Gereja Katolik dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Hasil kajian menunjukkan bahwa keterlibatan tubuh secara sadar dan reflektif dalam liturgi berperan penting dalam pembentukan identitas komunal umat sebagai Tubuh Kristus dan memiliki daya transformatif yang melampaui ruang ibadah. Liturgi yang “bergerak” membentuk habitus iman yang tercermin dalam sikap etis, solidaritas sosial, dan praksis kehidupan sehari-hari. Namun demikian, artikel ini juga mengungkap adanya kesenjangan antara ideal teologis liturgi dan praktik gerejawi yang masih cenderung mekanis. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan dan pembinaan liturgis yang menekankan kesadaran tubuh sebagai medium iman agar liturgi sungguh menjadi ruang transformasi spiritual dan sosial.</p>2026-08-12T00:00:00+09:00Hak Cipta (c) 2026 Casandro Siregarhttp://ojs.stftkijne.ac.id/index.php/jmp/article/view/301Perdamaian Di Tanah Papua: Merawat Perjumpaan Wajah Dan Menciptakan Narasi Bersama Dalam Perspektif Teologi Pastoral Sosial2026-07-13T09:52:58+09:00Natanael Tarigantarigannatanael45@gmail.com<p style="font-weight: 400;">Tanah Papua merupakan wilayah yang secara historis dan struktural tidak terlepas dari dinamika konflik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran perempuan Sentani dalam proses penyelesaian konflik komunal melalui perspektif teologi pastoral sosial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-naratif dan etnografi pastoral, penelitian ini menganalisis praktik budaya <em>waimam</em> sebagai kearifan lokal yang memungkinkan perempuan berperan sebagai mediator perdamaian meskipun berada dalam struktur patriarkal yang membatasi akses mereka terhadap ruang adat. Temuan menunjukkan bahwa perempuan Sentani melalui identitas noken dan kani mampu merawat perjumpaan wajah dan membangun narasi baru yang mencegah eskalasi konflik. Teori segitiga konflik Galtung (Sikap-Perilaku-Kontradiksi) dan teori pencegahan konflik Leatherman digunakan sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian dikonstruksi ke dalam teologi pastoral sosial melalui tiga langkah praksis pastoral: konfrontasi, konfirmasi, dan konfigurasi—yang mengandaikan gereja sebagai komunitas sadar konflik yang mampu hadir secara autentik di tengah pergumulan umat. Implikasi teologis dari temuan ini menegaskan bahwa perjumpaan wajah yang merawat <em>pathos</em> komunitas merupakan lokus teologi praksis yang relevan bagi perdamaian di Tanah Papua.</p>2026-08-12T00:00:00+09:00Hak Cipta (c) 2026 Natanael Tariganhttp://ojs.stftkijne.ac.id/index.php/jmp/article/view/321God As The Reconciler: A Theological Reflection On The Being And Character Of God In The Work Of Reconciliation2026-07-24T11:07:27+09:00Coky Agustinus Panjaitanrubennesimnasi@sttikat.ac.idRuben Nesimnasirubennesimnasi@sttikat.ac.id<p style="font-weight: 400;"><em>Kajian mengenai rekonsiliasi dalam teologi Kristen umumnya berfokus pada aspek kristologis, soteriologis, atau dimensi etis-sosial, sementara pembahasan mengenai Allah sebagai subjek utama dan pelaku pertama rekonsiliasi melalui integrasi keberadaan dan karakter-Nya masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana keberadaan Allah menjadi dasar ontologis karya rekonsiliasi serta bagaimana karakter ilahi termanifestasi dalam tindakan pendamaian antara Allah dan manusia. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan yang memadukan pendekatan teologi sistematika dan teologi biblika. Data dianalisis melalui teknik analisis isi (content analysis), hermeneutika teologis terhadap teks-teks Alkitab, serta sintesis konseptual terhadap berbagai literatur teologi kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonsiliasi merupakan manifestasi langsung dari keberadaan Allah yang kekal, berdaulat, dan mahakasih, sehingga tindakan pendamaian berakar pada natur Allah sendiri. Selain itu, karakter Allah yang meliputi kasih, kekudusan, keadilan, anugerah, kesetiaan, dan pengampunan bekerja secara harmonis dalam karya rekonsiliasi melalui Yesus Kristus tanpa meniadakan salah satu atribut ilahi. Penelitian ini menawarkan perspektif integratif yang menghubungkan doktrin Allah (theology proper) dengan doktrin keselamatan (soteriology), sehingga rekonsiliasi dipahami tidak hanya sebagai peristiwa soteriologis, tetapi juga sebagai ekspresi utuh keberadaan dan karakter Allah. Temuan ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan teologi sistematika serta memperkuat relevansi doktrin rekonsiliasi bagi kehidupan gereja dan masyarakat kontemporer.</em></p>2026-08-12T00:00:00+09:00Hak Cipta (c) 2026 Coky Agustinus Panjaitan, Ruben Nesimnasihttp://ojs.stftkijne.ac.id/index.php/jmp/article/view/315Penyembahan Sejati Dalam Yohanes 12:1–8: Studi Eksegetis Dan Kontekstual Pada Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Lippo Cikarang2026-07-23T16:09:15+09:00Elia SiregarElia.srgr75@gmail.comBrigjen Silaensilaenb@gmail.comDuma Uli Manurungdumavaness@gmail.com<h3> </h3> <p>Penyembahan dalam gereja sering dipahami sebagai aktivitas liturgis yang berpusat pada musik dan ritual ibadah, sehingga makna teologisnya sebagai respons hidup kepada Kristus kurang memperoleh perhatian. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna penyembahan dalam Yohanes 12:1–8 serta mengkaji aktualisasinya pada Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Lippo Cikarang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode eksegesis naratif terhadap Yohanes 12:1–8 yang dipadukan dengan pendekatan teologi praktis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap Alkitab, literatur teologi, dan hasil observasi serta dokumentasi praktik penyembahan di Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Lippo Cikarang. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, interpretasi teologis, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyembahan sejati dalam Yohanes 12:1–8 merupakan respons iman terhadap anugerah Allah yang diwujudkan melalui kasih, pengorbanan, kerendahan hati, dan penyerahan diri kepada Kristus. Penelitian ini menghasilkan lima prinsip teologis penyembahan, yaitu penyembahan sebagai respons atas anugerah Allah, menuntut pengorbanan, berakar pada kasih kepada Kristus, diwujudkan melalui kerendahan hati, dan menghasilkan kesaksian yang berdampak bagi komunitas. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa praktik penyembahan di Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Lippo Cikarang telah mengaktualisasikan prinsip-prinsip tersebut melalui integrasi antara ibadah liturgis dan pelayanan diakonia. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian teologi penyembahan dengan mengintegrasikan analisis eksegetis dan teologi praktis dalam konteks gereja Pentakosta.</p>2026-08-12T00:00:00+09:00Hak Cipta (c) 2026 Elia Siregar, Brigjen Silaen, Duma Uli Manurunghttp://ojs.stftkijne.ac.id/index.php/jmp/article/view/314Transformasi Pembelajaran Sekolah Minggu Melalui Project-Based Learning: Sebuah Praktik Kepemimpinan Transformatif Mahasiswa2026-07-26T23:28:58+09:00Fransina Yotenifransinayoteni5@gmail.comHenny Verra Fonatabaverrafonataba@gmail.comSaneraro Rumererumeresaneraro@gmail.comImmanuel G Andoynuelanfoi7@gmail.com<p>Pendidikan Agama Kristen (PAK) kontemporer menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan transmisi pengetahuan tradisional dengan pengembangan kompetensi abad 21. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas integrasi Project-Based Learning (PBL) dan kepemimpinan transformatif mahasiswa dalam mentransformasi pembelajaran Sekolah Minggu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang mengimplementasikan Model Integrasi Progresif Tridharma Perguruan Tinggi. Kegiatan dilaksanakan di Jemaat GKI Efata Puyoh Besar, Klasis Sentani, melibatkan 16 mahasiswa, 38 anak Sekolah Minggu, dan 2 guru pendamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PBL berhasil mengatasi kelesuan metode konvensional dengan meningkatkan partisipasi aktif dan antusiasme anak-anak secara signifikan. Mahasiswa bertindak sebagai fasilitator yang menerapkan dimensi Idealized Influence dan Individualized Consideration, menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan. Selain itu, kegiatan ini memfasilitasi transfer pengetahuan kepada guru Sekolah Minggu setempat mengenai strategi pembelajaran interaktif. Kesimpulannya, integrasi PBL yang difasilitasi melalui kepemimpinan transformatif mahasiswa terbukti efektif dalam mentransformasi pembelajaran Sekolah Minggu menjadi lebih partisipatif, relevan, dan memberdayakan.</p>2026-08-12T00:00:00+09:00Hak Cipta (c) 2026 Fransina Yoteni, Henny Verra Fonataba, Saneraro Rumere, Immanuel G Andoyhttp://ojs.stftkijne.ac.id/index.php/jmp/article/view/308Inkulturasi Seruling “Ibrisia” Suku Tapea Di Kabupaten Sarmi Provinsi Papua Dalam Liturgi Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua2026-07-15T15:59:40+09:00Ratna Somalinggiratnasomalinggi72@gmail.comDiana Binkor Jenbisedianajenbise@gmail.comHengky K Baransanohengkybaransano600@gmail.com<p>Pada tata ibadah Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua pada minggu ke empat yaitu menggunakan tata ibadah kontekstual, banyak menampilkan konteks budaya dari masing-masing suku. Yang menjadi tantangan pada ibadah kontekstual GKI di Tanah Papua Khusunya di Klasis Sarmi Barat adalah minimnya ekspresi budaya yang di tampilkan. Hal ini, disebabkan karena pendekatan teologia yang dipakai oleh <em>zendeling</em> dulu bersikap radikal terhadap budaya atau adat karena adat disamakan dengan kekafiran “Kristus melawan Kebudayaan”. Suku <em>Tapea</em> di Kabupaten Sarmi khusunya Kampung Samorkena juga mengalami tekanan pada adat dan budayanya, salah satunya seruling “Ibrisia”. Artikel ini membahas asal-usul seruling “Ibrisia”, peruntukan penggunaanya, serta mengkaji dari sisi teologis agar dapat diinkulturasi pada ibadah kontekstual di minggu ke empat. Metode yang digunakan adalah kualitatif, kajian pustaka, observasi dan wawancara. Seruling “Ibrisia” melambangkan perdamain, keteraturan, penghormatan pada sang pencipta, penyembuhan, dan berkat. Seruling “<em>Ibrisia</em>” dapat di pakai pada Ibadah kontekstual di minggu ke empat pada tata Ibadah GKI di Tanah Papua. Namun masih ada tantangan dan perlu dikritisi secara teologis dan dialog yang mendalam Bersama Masyarakat.</p>2026-08-12T00:00:00+09:00Hak Cipta (c) 2026 ratna somalinggi, Diana Binkor Jenbise, Hengky K Baransanohttp://ojs.stftkijne.ac.id/index.php/jmp/article/view/298Fenomena Bunuh Diri Di Nusa Tenggara Timur: Analisis Sosial Dan Teologis Dalam Perspektif Émile Durkheim Dan John Potter2026-06-24T01:35:28+09:00Endang Damaris Koliendangkoli@gmail.comAmelia Waimuriameliawaimuri@stftkijne.ac.id<p>Fenomena bunuh diri terus menjadi perhatian global, nasional, dan lokal, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal memiliki kehidupan komunal dan religius yang kuat. Munculnya berbagai kasus bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan pertanyaan mengenai hubungan antara kondisi sosial, kehidupan beragama, dan kerentanan individu terhadap tindakan bunuh diri. Studi ini mengkaji fenomena bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan memeprtemukan teori bunuh diri Emile Durkheim dan pemikiran teologis John Potter. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis dokumen, data diambil dari delapan pemberitahuan media daring sepanjang 2023-2026. Melalui analisis deskriptif pola-pola yang ditemukan dibahas berdasarkan gagasan Durkheim tentang integrasi dan regulasi sosial serta pandangan Potter terkait stigma, kasih karunia, dan pendampingan pastoral. Temuan studi mengindikasikan bahwa peristiwa bunuh diri di NTT mencakup beragam rentang usia dan latar belakang sosial dengan proposi tertinggi pada kelompok laki-laki. Faktor-faktor yang muncul meliputi tekanan ekonomi, tuntutan budaya terkait belis, gangguan kejiwaan, persoalan relasi, dan berbagai bentuk kerentanan sosial lainnya. Dialog Durkheim dan Potter menunjukkan bahwa bunuh diri di NTT merupakan persoalan sosial sekaligus teologis. Temuan ini menegaskan pentingnya gereja membangun komunitas yang menghadirkan penerimaan, pendampingan, dan harapan sebagai bagian dari pelayanan pastoral terhadap individu yang mengalami keputusasaan</p>2026-08-12T00:00:00+09:00Hak Cipta (c) 2026 Endang Damaris Koli, Amelia Waimurihttp://ojs.stftkijne.ac.id/index.php/jmp/article/view/299Dekolonisasi Ideologi Pelanggan Adalah Raja Melalui Sistem Perekonomian Di Café Dan Kios Fokha STFT GKI I.S Kijne Jayapura2026-06-24T16:54:40+09:00Maria Komboynrumere@gmail.comSientje Latuputtysientje2003@yahoo.com<p>Penelitian ini bertujuan mendekonstruksi ideologi pemasaran “Pelanggan adalah Raja” dalam aktivitas ekonomi di Cafe dan Kios Fokha STFT GKI I.S Kijne. Ideologi tersebut dinilai membentuk relasi kuasa yang timpang, di mana pelanggan memposisikan diri sebagai pihak dominan sementara pelayan yang sebagian besar adalah mahasiswa, ditempatkan sebagai pihak subordinat, sehingga berpotensi mereduksi martabat manusia dalam perspektif Imago Dei. Penelitian ini menggunakan Pendekatan Kualitatif, jenis Studi Kasus Intrinsik dengan perspektif dekolonisasi melalui observasi, refleksivitas peneliti, studi pustaka, serta kuesioner kepada pelayan dan pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ideologi “Pelanggan adalah Raja” termanifestasi dalam bentuk komunikasi verbal yang merendahkan, gestur dominatif, pelanggaran prosedur pelayanan, serta reproduksi hierarki sosial di ruang transaksi. Temuan ini mengindikasikan adanya micro-oppression yang memperpanjang warisan kolonialfeodal dalam praktik ekonomi sehari-hari. Sebagai alternatif, Cafe dan Kios Fokha, yang bermakna “sejahtera” dalam bahasa Sentani, ditafsirkan sebagai ruang dialektika teologi dan ekonomi yang menekankan relasi egaliter berbasis koinonia dan resiprositas. Penelitian ini menegaskan pentingnya transformasi paradigma dari orientasi keuntungan dan dominasi menuju sistem ekonomi berkeadilan yang memulihkan martabat penjual dan pembeli sebagai sesama</p>2026-08-12T00:00:00+09:00Hak Cipta (c) 2026 Maria Komboy, Sientje Latuputtyhttp://ojs.stftkijne.ac.id/index.php/jmp/article/view/323Kognisi Dalam Implementasi Keterampilan Berbahasa Dan Literasi Mahasiswa PAK Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Izaak Samuel Kijne 2026-07-31T09:48:15+09:00Rona Rumsarwirrona2149kmr@gmail.comJudet Yoshimine Torajudettora40@gmail.com<p>Kemampuan Literasi mahasiswa adalah fondasi utama dalam belajar di perguruan tinggi. Tingkat literasi yang mumpuni ditunjukkan dengan menerapkan ketrampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis) secara terintegrasi dalam proses belajar. Tujuan dari penelitian ini terdiri atas tiga aspek, yaitu: pertama, untuk menelaah tingkat kognitif literasi bahasa mahasiswa. Kedua, untuk memaparkan kemampuan mahasiswa menerapkan keterampilan berbahasa dalam mengerjakan tugas – tugas kuliah. Ketiga, belajar adalah juga mengimplementasi kemampuan kognisi dan literasi dalam memparafrase dan bersintesa. Metode pada penelitian ini adalah Kualitatif Deskriptif.. Penelitian dilaksanakan selama satu semester, pada populasi mahasiswa S1 PAK dengan subjek penelitian pada 16 (enambelas) mahasiswa selaku informan dan responden. Teknik pengambilan data dari hasil Evaluasi Presentasi Tengah Semester (PTS) dan Presentasi Akhir Semester (PAS). Temuan dari hasil projek PTS dan PAS menunjukkan mahasiswa yang memperoleh nilai angka skala 100 – 60 hanya terdiri dari sepuluh (10) orang. Sementara perolehan angka skala 50 – 0 masih kurang dalam mengoptimalkan kognisi dan menerapkan ketrampilan berbahasa dalam literasi. Penyebab paling utama yaitu: faktor ketidak-hadiran secara teratur dalam mengikuti proses belajar di kelas. Sementara, keberhasilan dengan pencapaian skala angka tersebut di atas tidak instan tetapi dari kehadiran dan berpartisipasi aktif dalam mengerjakan latihan - latihan dan projek tugas secara kontinu. Kesimpulan dari penemuan hasil penelitian ini, yaitu: proses kognisi secara alami berkembang dan beradaptasi. Stimulasinya adalah tiap manusia harus terus mau berproses belajar dan mengaktifkan keterampilan berbahasa secara terintegrasi</p>2026-08-12T00:00:00+09:00Hak Cipta (c) 2026 Rona Rumsarwir, Judet Yoshimine Tora